BIOGRAFI AFIFAH AFRA

| |

AFRA, PENGIKAT IDE YANG PRODUKTIF

….ide butuh diikat,
agar tidak ‘berlarian’ ke sana kemari
dan cara mengikat ide yang paling tepat
adalah dengan menuliskanya.
maka ke manapun pergi
aku selalu membawa buku tulis.
dari catatan-catatan kecil itulah cerita-ceritaku bermula.
Begitulah cara berpikir Afifah Afra, seorang penulis muda Indonesia yang produktif. Pemikirannya tentang mengikat ide dan cara pandangnya tentang sesuatu, dapat menghasilkan karya yang segar, kaya, dan penuh nyawa. Hal inilah yang membuat saya tertarik dengan kehidupan sosok ibu dua anak ini. selain itu, juga karena saya tertarik dengan kehidupan orang-orang yang mengikat ide dan tidak membiarkan setiap jengkal perjalanan hidupnya tidak terekam dan terarsipkan, karena memang hidup terlalu sia-sia jika tidak diarsipkan.
Afifah Afra Amatulloh, itulah nama pena dari Yeni Mulati yang sekarang lebih akrab dengan nama Afifah Afra. Lahir di Purbalingga, 18 Februari 1979, putri dari pasangan Bapak Sutjipto dan Ibu Sri Wartuti. Yeni, atau Afra, begitu ia sering dipanggil, telah menyelesaikan Sarjananya di F MIPA Undip dengan IPK yang lumayan bagus (walaupun tidak sampai cum laude). Memiliki rencana melanjutkan ke S2 dan S3, tetapi hingga kini belum tercapai. Meskipun sekarang tidak bersekolah secara formal, tetapi kesehariannya tak lepas dari proses-proses penajaman intelektualitas. Ibu muda yang energik namun sering drop kelelahan ini juga pernah belajar di Ma’had As-Salam, Semarang, jurusan Dirosah Islam. Guru-gurunya antara lain Ustadz Muhammad Haris (aleg DPRD Jawa Tengah), Ustadz Afif Ikhwan, Lc., Ustadz Muhammad Irfan, Lc. dan sebagainya.
Usai menamatkan sarjana sainsnya, Afra hijrah ke Surakarta, magang di Era Intermedia sebagai redaktur majalah Karima. Di kota ini, secara informal ia berguru manajemen, penerbitan, serta pendalaman keagamaan langsung kepada Bpk Abdul Kharis (direktur PT Era Intermedia), Ustadz Wahid Ahmadi, Mbak Setiawati Intan Savitri (Izzatul Jannah), Ustadz DR. Muinudinillah Bashri, M.A, Lc. dan sebagainya. Ia memutuskan untuk menetap di kota Solo setelah bertemu dengan ‘pelabuhan hatinya’ Ahmad Supriyanto yang berprofesi sebagai seorang dokter. Ikatan pernikahan yang ‘tak terasa’ memasuki tahun ke-6, telah membuahkan karya agung Ciptaan Sang Maha Pencipta, 2 permata hati mereka, Syahidah Dzakiyyatun Nisa (4 th) dan Ramadhan Faidlurrahman (2 th).
Terlahir dalam keluarga yang lekat dengan nuansa edukasi membuat Afra kecil tumbuh menjadi seorang anak aktif yang hobi menulis dan belajar, belajar apa saja, mulai dari sejarah, antropologi, sastra, hingga belajar memasak. Hobinya ini juga karena dukungan ayahnya yang seorang guru dan seniman yang berkecimpung dalam seni drama, seni lukis, dan seni musik. Sebagai seorang guru, ayah Afra rupanya mengerti bahwa menanamkan makna kepada sang anak melalui metode cerita (dongeng) ternyata cukup efektif. Sehingga hampir setiap hari Afra kecil mendengarkan dongeng dari sang ayah. Saat itu, tidak ada yang lebih menarik baginya selain mendengarkan ayahnya mendongeng sambil makan ketela goreng. Sayang, waktu ayahnya untuk mendongeng terbatas karena beliau juga aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Untuk mensiasati kebutuhan akan dongeng ayahnya, akhirnya Afra kecil berpaling pada buku cerita dan menjadi kutu buku. Namun, buku-buku yang dia miliki terbatas jumlahnya. Sedangkan untuk membelinya dia tak mempunyai cukup dana. Akhirnya, Afra pun mencoba-coba menulis cerita sendiri untuk dinikmati sendiri. Dari sinilah, saat masih SD dan usianya baru tujuh tahun, hobi menulis Afra mulai muncul dan pujian dari saudaranya akan tulisannya yang bagus membuat Afra lebih semangat lagi menulis.
Ibu muda yang kata teman-teman dekatnya berkarakter dinamis, idealis, briliyan, kreatif namun acak-abstrak, meloncat-loncat dan sering tidak konsisten ini mengaku suka menulis karena sepuluh alasan, yaitu karena ingin pintar, ingin berdakwah lewat pena, ingin bisa berpikir lebih sistematis, ingin memperoleh kepuasan batin, ingin menjadi orang yang pintar mengendalikan emosi, inginmengekspresikan empati dan pembelaannya, ingin awet muda, ingin memiliki banyak teman, dan ingin mendapatkan penghasilan.
Karyanya yang pertama kali dimuat di media massa berupa cerpen yang dimuat di RRI Purwokerto, selain itu cerpen dan artikelnya bertebaran di majalah Anita Cemerlang, Saksi, Ummi, Kartini, KARIMA, Annida, Koran Kampus “Manunggal”, harian SOLOPOS dan sebagainya. Mulai tahun 2000, ia memberanikan diri ‘melamar’ penerbit. Maka, lahirlah buku perdananya, “Genderuwo Terpasung” yang dilaunching tahun 2000 di halaman SMA 3 Semarang, menghadirkan pembicara: Asma Nadia, Halfino Berry dan pengarang yang cukup mempengaruhinya, Prie GS.
Afra termasuk penulis yang produktif. Hal ini bias dilihat dari karyanya yang sudah lebih dari kepala empat hanya dalam kurun waktu delapan tahun. Bila dirata-rata, setidaknya Afra menciptakan lima karyanya dalam satu tahun. Meskipun sangat aktif menulis, ternyata hobinya ini pernah membentur ‘tembok raksasa’. Hal ini terjadi saat awal kuliah (di F.MIPA Undip). Afra bersentuhan dengan sebuah aliran keislaman yang lumayan ekstrim yang menyatakan bahwa menulis cerita itu haram. Sampai akhirnya Afra mendapatkan pencerahan dari beberapa ustadz dan kakak kelas. Setelah keluar dari aliran itu, Afra kembali berkarya dan inilah daftar bookografinya:
1. Genderuwo Terpasung (Kumcer, Asy-Syaamil, 2001)
2. Bulan Mati di Javasche Oranje (Novel trilogi 1, Eranovfis, 2001)
3. Syahid Samurai (Novel trilogi 2, Eranovfis, 2002)
4. Peluru di Matamu (Novel trilogi 3, Eranovfis, 2003)
5. Kembang Luruh di Rimbun Jati (Novel, Asy Syaamil, 2002)
6. Serial Elang 1: 100 Bunga Mawar Untuk Mr. Valentine (Eranovfis, 2002)
7. Serial Elang 2: Elang Selebritis (Eranovfis, 2003)
8. Serial Elang 3: Cinta Gaya Britney (Eranovfis, 2003)
9. Marabunta 1: Topan Marabunta (Novel, GIP, 2002)
10. Marabunta 2: Kudeta Sang Marabunta (Novel, GIP, 2003)
11. Marabunta 3: Bunga-bunga Biru (Novel, GIP, 2004)
12. Marabunta 4: Ode Buat Cinta (Novel, GIP, 2006)
13. Jangan Panggil Aku Josephine (Novel, Eranovfis, 2003)
14. Mawar-Mawar Azkiya (Kumcer, Mizan, 2003)
15. Tersentuh Ilalang (novel trilogi 1, Mizan, 2003)
16. Tarian Ilalang (novel trilogi 2, Mizan, 2003)
17. Cinta Ilalang (novel trilogi 3, Mizan, 2004)
18. the Most Wanted (kumcer, Zikrul Hakim, 2004)
19. Terpinang Cinta (novel, LPPH, 2004)
20. Twin Oriole 1: Cinta itu Indah, Fren! (Eranovfis, 2004)
21. Obituari Kasih (novel, Mizan, 2004)
22. Smile Up, Guys! (Non Fiksi, MVM, 2004)
23. Jadilah si Penyebar Cinta (Non Fiksi, MVM, 2004)
24. Hati-hati Nonton AFI (Non Fiksi, MVM, 2004)
25. Teman Tetap Mesra (Non fiksi, Indiva Media Kreasi, 2006)
26. How tobe A Smart Writer (Non fiksi, Indiva Media Kreasi, 2006)
27. Gals, PD-mu Masih Memble? (Non fiksi, Indiva Media Kreasi, 2006)
28. The Winner is... (Non Fiksi, GIP, 2007)
29. Optimis Dong, Fren (Non Fiksi, GIP, 2007)
30. Cinta Apa Nafsu (Non fiksi, Indiva Media Kreasi, 2006)
31. Mengukir Cinta di Lembar Putih (Non fiksi, Indiva Media Kreasi, 2006)
32. Nikah Itu tidak Mudah (Non fiksi, Indiva Media Kreasi, 2006)
33. Look I’m Very Beautyfull (Non fiksi, Indiva Media Kreasi, 2007)
34. Datang Serang Menang (Non fiksi, Indiva Media Kreasi, 2007)
35. The Secret of Playboy (Non fiksi, Indiva Media Kreasi, 2007)
36. Bisik-bisik Soal Seks (Non fiksi, Indiva Media Kreasi, 2007)
37. The Star Is Me (Non fiksi, Indiva Media Kreasi, 2008)
38. De Winst (Novel, Indiva Media Kreasi, 2008)
39. Panduan Amal Wanita Shalihah (Indiva Media Kreasi, 2008)
40. Katastrofa Cinta ( Novel, Lingkar Pena Publishing House, 2008)
Kebanyakan buku-bukunya diterima oleh pasar dengan baik, dan sebagian berpredika best seller dengan angka penjualan di atas 10 ribu eksemplar. Beberapa penghargaan di bidang kepenulisan antara lain
Novel Bulan Mati di Javasche Oranje mendapat penghargaan sebagai Runner up novel terpuji FLP Award.
Cerpen Kematian Romo mendapatkan penghargaan sebagai salah satu cerpen terbaik Annida dan dibukukan bersama cerpen terbaik lainnya dalam buku Merajut Cahaya.
Cerpen “Pati Obong” dan “Sri Rama Terpidana” terpilih sebagai finalis LCCI dalam rangka Milad FLP yang ke-5 tahun 2002.
Sedangkan cerbung yang berjudul “Tembang Cinta” berhasil mendapatkan juara harapan 1 Sayembara Cerbung Majalah Kartini, 2003.
Dalam bidang non fiksi Yeni juga pernah mendapatkan prestasi sebagai juara 3 LKTI Nasional Hijrah Nabawiyah yang diselenggarakan oleh Universitas YARSI. Cerpen “Putri Pualam” berhasil mendapatkan penghargaan sebagai juara harapan pada lomba menulis cerpen ROHTO 2007.
Aktivitas di bidang sosial tak kalah riuh dibanding aktivitas literasi. Bersama beberapa kawan, Afra mendirikan PPAP (Pemberdayaan Perempuan dan Anak Pinggiran) Seroja (sebuah LSM pemberdayaan perempuan dan anak pinggiran). Sempat bergelut dengan intensif, namun karena berbagai hal, saat ini ia hanya memantau dari jauh LSM yang hingga kini terus bergeliat. Afra juga bergabung dengan SALIMAH (Persaudaraan Muslimah), saat ini menjadi staf humas SALIMAH Surakarta. Namun yang pasti, Afra cukup fokus terlibat secara intensif dalam proses pengkaderan penulis muda yang tergabung dalam Forum Lingkar Pena (FLP), di mana saat ini ia diamanahi sebagai ketua FLP Wilayah Jawa Tengah.
Kini selain sibuk mendidik putera-puterinya, melayani suami, ikut arisan dan acara-acara pengajian ibu-ibu di kampung (PKK gitu loch), menulis fiksi maupun non fiksi untuk beberapa media, Afra juga bekerja di penerbit Indiva Media Kreasi Surakarta sebagai direktur operasional sekaligus salah satu ownernya. Kini, Afra mencoba merancang sebuah penerbit baru, Afra Publishing, dan mengomandoinya sejak tahun 2006. Selain itu, Afra juga berperan sebagai salah satu pengasuh Afra Writing School, sebuah lembaga pelatihan belajar menulis jarak jauh.

DAFTAR PUSTAKA
Afra, Afifah. 2007. How To Be A Smart Writer. Indiva Media Kreasi: Surakarta.
Afra, Afifah. 2008. Biodata, (Online), (www.afifahafra.com, diakses Senin, 2 Februari 2009, pukul 13.30 WIB)

0 komentar:

Poskan Komentar

.